Senin, 26 Maret 2012

Kenaikan BBM dari sudut pandang lain

Media gembar gembor memberitakan segala bentuk respon menentang kenaikan BBM
Aksi demonstrasi anarkis oleh mahasiswa, merusak sarana masyarakat. Disudut ini, seorang wanita berusia 50 tahun, janda, dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan tidak pernah mengecap pendidikan formal, hanya  menggeleng-gelengkan kepala saat melihat kerusuhan yang ditayangkan ditelevisi, selanjutnya tak ada apapun yang membekas dalam benaknya berkaitan dengan kenaikan BBM kecuali perkiraan angka-angka dalam benaknya mengenai harga minyak tanah untuk memasak nantinya. 
Tak ada kekhawatiran yang tampak dari segala macam gerak geriknya, justru tetap tertawa lepas melihat tayangan komedi di televisi. hahahaha...hihihihi seperti hari ini adalah miliknya. Luar biasa.....
Meskipun mahasiswa dan para kaum bermartabat lainnya rusuh, ia tetap berjalan dengan kokoh memperbaiki diri dan hidupnya, baginya tidak ada yang mampu  mempersulit hidupnya kecuali Tuhan memang berkehendak, bahkan kenaikan BBM bukan alasan baginya untuk membayangkan hidup sulit. Bahagia dan makmur hidup toh tidak bergantung pada BBM, tapi bergantung pada berapa energi yang ia keluarkan setiap hari untuk mencuci, memasak, dan bersih-bersih. 
Ironis kenapa banyak kalangan sibuk mengeluarkan energi paling ekstra untuk menentang kenaikan BBM, seolah-olah kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat indonesia bergantung pada harga BBM, bukankah kemakmuran dan kehagiaan dapat kita ciptakan dengan usaha kita sendiri??
Jangan merendahkan martabat dengan bergantung kepada suatu hal, bukankah orang berpendidikan dan ternama karena intelektualnya seharusnya dapat lebih bijak dalam mengatasi masalah dan menanggapi apapun. Masak ia sih.....mahasiswa kalah dari ibunda saya yang saya ceritakan diatas