Senin, 21 November 2011

Indahnya langitku

Ketika kecil ku gantungkan angan ke langit impian yang penuh warna. Tertawa dalam balutan harapan dan cita-cita.
Ketika beranjak remaja, ku gantungkan lagi angan tanpa batas diatas langitku. Muluk memang, namun aku terlalu lemah tidak masuk ke alam mimpi.
Beranjak dewasa, aku kehilangan langit impianku, tempat ku menggantungkan segala angan dan harapan tana batas. tanpa ada kata tapi.
Aku seolah kehilangan tempat terindah, langitku hilang, entah kemana. Ingin melihat keindahan warnanya lagi, ingin merasakan semangat menggebu-gebu, dan mimpi tanpa kata tapi. Mungkin usia membuatku berpikir "realistis". Tapi realistis bukan berarti tidak mungkin untuk semua cita-cita dilangit itu.
Lama tak jumpa, aku merindukan gebu semangat dibawah langit impian.....
Sedikit demi sedikit kini ku temukan, perlahan ku gapai lagi mimpi
Mengayunkan langkah pasti, memandang dengan bebas keseluruh penjuru dunia, tanpa batas.
Menikmati indahnya dunia, menikmati indahnya langit harapan yang akhirnya akan kugapai...
Dengan semangat....dengan senyuman, dan dengan daya, kan terwujud
Aminnn Ya Allah...Bismillah

Tentang garis finish kehidupan

       Beberapa waktu ini, saya berturut-turut mendapat kabar duka dari para teman. Semua kabar duka itu sungguh tak disangka-sangka. Satu orang teman meninggal karena kecelakaan, dan satu orang teman lagi meninggal tiba-tiba oleh penyakit asma. Tampaknya Allah sedang memperingatkan saya. 
      Maut, menakutkan, dekat, misteri, dan sebuah janji. Tanpa kita mengingat, sebenarnya ketika kita berada dalam rahim ibu dulu, kita telah membuat sebuah "kontrak" dengan Allah SWT. Kontrak itu, salah satunya berisikan kapan Allah akan memanggil kita untuk menghadapNya. Meskipun pembuatan "Kontrak" itu melibatkan manusia, namun tiada seorang manusia pun yang ingat isi perjanjian itu, dan kapan mereka akan dapatkan giliran panggilan. Hanya Allah yang tau. Bagi yang masih hidup, ini seperti menunggu antrian di Bank, hanya saja no antrian tidak kita ketahui. Yang pasti, semua dari kita akan menuju ke sana, mengikuti langkah pendahulu yang sudah tiada.
       Maut, dapat diandaikan sebagaga finish kehidupan didunia, ibarat lomba lari. Yang membedakannya antara orang satu dengan orang yang lain adalah, seperti apa kesan yang ditinggalkan pada penonton, bagaimana respon penonton ketika kita mencapai garis finish Serta bagaimana nasib kita setelah menempuh garis finish. Kesuksesan ketika mencapai garis finish ini bukan hanya perkara dengan Allah SWT, namun juga perkara dengan sesama. Kompleks memang. 
        Hak masing-masing manusia untuk memilih akan berakhir seperti apa. Namun manusia tak lagi punya hak, menentukan apa yang akan diterima setelah menempuh garis finish kehidupan. Belajar, dan terus membenahi diri menuju garis finish dan start kembali ke garis dunia yang abadi. Hidup itu sebuah perjalanan, di waktu yang tersisa, mulai menyiapkan bekal untuk perjalanan akhirat nanti. Yoookkk.....Mudah-mudahan kita terpilih menjadi insan yang beriman dan yang beruntung mendapatkan tempat terbaik disisi ALlah...Dari sekarang, mari persiakan bekal :D..Amiinn Ya Rabb....