Jumat, 20 Mei 2011

Fenomena Cinta "Cindua Tapai"

Tulisan kali ini mungkin akan memperlihatkan distorsi kognitif saya, tapi saya ingin berbagi pandangan sedikit mengenai fenomena cinta dikalangan anak muda sekarang, walaupun akan semakin memperjelas idealisme saya.
Saya dilahirkan di keluarga yang sederhana, namun sangat rigid dalam memandang hubungan dengan lawan jenis. Disisi lain saya tumbuh dalam lingkungan budaya minangkabau, budaya yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, namun tak serta merta saya tumbuh di adat yang masih "baku", tapi lebih kepada penganut adat dalam perspektif modernya. Saya juga penganut paham"rada"feminisme, "rada" lho ya, itu salah satu sebab saya sekarang melanjutkan pendidikan  S2 psikologi disalah satu universitas negeri di Indonesia.
Sedikit saja menyinggung saya dan latar belakang saya, yang mempengaruhi tulisan saya kali ini, agar pembaca mengerti paling tidak dinamika pribadi terhadap tulisan saya, dan dapat memakluminya (hehehehe).
Cinta adalah kata yang bisa membuat orang tersenyum, menangis, bahkan bunuh diri. Tak jarang orang datang ke seorang psikolog, mengalami depresi karena masalah cinta, begitu dasyatnya cinta. Definisi cinta belakangan seolah-olah menjadi semakin sempit. Cinta hanya diumbar-umbar kepada lawan jenis saja, padahal cinta itu luas, cinta pada orang tua, teman, guru, kerabat, dsb. Tak jarang dijejaring sosial isinya kebanyakan adalah ungkapan cinta seseorang pada pasangannya, yang seharusnya cukup secara pribadi saja, mengumbar-umbar kemesraan yang berlebihan didepan khalayak ramai. Membuat status yang didominasi oleh perasaan cinta pada pasangan, melankolis sekali, dan lebayyyy, kata anak gaul.
Adakalanya karena mempersempit pandangan terhadap cinta, cinta kepada Sang Pencipta, dan orang tua diabaikan. Melupakan kewarasan, dan harga diri hanya demi Cinta. Jika mengenal cinta secara lebih luas itulah dunia yang benar-benar indah.
Bagi wanita terutama wanita minang harga diri dan nama baik keluarga dan kaum adalah hal penting, namun belakangan luntur oleh globalisasi dan paham penyempitan definisi cinta.hehehe. Menurut saya sebagai seorang wanita, terlalu merugi jika kita berlebihan dalam memandang cinta pada lawan jenis, hal ini bahkan bisa membahayakan, tak jarang kaum adam memanfaatkan cinta yang terlalu berlebiha dari seorang wanita, sampai fenomena hamil diluar nikah ini terjadi.
Apa yang akan kita lakukan jika hamil diluar nikah??depresi, bunuh diri??, sengsara. Masa depan indah terenggut oleh cinta "cindua tapai" kata orang minang. Makan cindua tapai terlalu berlebihan bisa membuat siempunya perut sengsara, begitu juga cinta yang berlebihan pada orang yang belum menjadi mahram, bisa membuat hidup sengsara, jauh lebih sengsara.
Menurut saya ketika kita sebagai wanita menjaga diri, memperbaiki kualitas diri, maka pria akan mengincar untuk menjadikan kita sebagai pendamping hidupnya sampai akhir, dan bukan untuk disia-siakan, bukan untuk dimanfaatkan untuk nafsu belaka, tapi justru ntuk dia jaga, perhiasan indah yang akan dia jaga.
Artinya jangan merendahkan diri, hanya demi cinta yang semu, ingat masih ada cinta lain yang luar biasa. Tak hanya memikirkan sekedar emosi cinta, tapi memikirkan banyak hal lain yang lebih produktif, seperti prestasi, cita-cita keliling eropa,hehehe dll, akan luar biasa jika sebagai wanita kita mampu berguna bagi orang lain dan berprestasi gemilang.

Wanita yang baik untuk lelaki yang baik, dan jika anda memperbaiki diri, maka anda akan dapatkan yang terbaik.....

"Sosok Ayahku juga ada pada Bapak penjual goreng"

Makanan jogja susah untuk sesuai dengan lidah padang saya. Kalau orang padang suka makanan dengan bumbu rempah yang kaya dan dengan rasa pedas  yang menggetarkan lidah. Namun ada satu makanan yang sangat saya gandrungi disini, yaitu tempe gembus. Saya pernah mendegar bagaimana cara pembuatan tempe tersebut yang cukup "mengesankan", dan kadar gizinya yang tidak ada, karena tempe gembus adalah ampas-ampas tempe. Meskipun demikian saya tetap suka tempe gembus, sampai saya berlangganan memberi gorengan tempe gembus pada seorang bapak penjual goreng tak jauh dari kos saya.
Bapak ini yang akan saya ceritakan lebih lanjut....
Biasanya saya membeli gorengan beliau siang hari, biasanya sang bapak sedang sibuk menggoreng tempenya sambil membuat adonan gorengnya, atau tidur dilantai untuk melepas lelah. Secara fisik sebenarnya bapak ini memiliki sedikit keterbatasan, tangan sebelah kanan beliau rada lemah, jarinya melengkung, dan ukuran tangan sebelah kanan tersebut jauh lebih kecil daripada tangan sebelah kiri. Berikut rentetan kejadian penting ketika saya membeli gorengan sang bapak :
  1. Suatu hari, saya lupa hari apa, ketika saya datang membeli gorengan beliau sedang menggoreng dan mengaduk gorengan, sambil menelfon, saya tidak tahu siapa yang beliau hubungi, tapi ketika saya datang pembicaraan beliau dengan orang yan di telfon hampi selesai, dan setelah selesai beliau mengatakan kepada saya bahwa ia menelfon istrinya dan sepertinya ada masalah dengan anaknya, kalau dari yang saya tangkap, anaknya nakal, dan beliau sangat mengkhaatirkan anaknya tersebut.
  2. Hari lainnya setelah itu, ketika saya membeli gorengan beliau sedang tidur pulas dilantai. Kondisi lantai sangat kotor, dan beliau tidur hanya beralaskan tikar tipis saja, sementara di depan gerobak adalah jalan raya, dengan suara bising kendaraan bermotor.
  3. Berikutnya saya lewat didepan gerobak beliau, hari itu, hari sabtu, saya bersama seorang teman sedang jalan pagi dan mencari bubur ayam disekitaran terdekat, dan kami menemukannya di sebelah gerobak gorengan sibapak.Waktu menunjukkan pukul 06.00 dan beliau sedang  sibuk mnggoreng, meskipun sudh cukup banyak gorengan yang masih hangat sudah tersaji. 
  4. Malamnya dihari yang sama saya dan teman saya kembali lagi untuk membeli gorengan tempe gembus bapak tersebut, dan saya masih menemukan beliau, jam menunjukkan pukul 21.00, tenu saja saya sudah dengan penampilan yang berbeda dengan ketika jalan pagi tadi, dalam rentang 15 jam, saya sudah banyak melakukan hal lain, bahkan istirahat yang cukup, sementara beliau tetap berada didepan gerobak gorengan itu. Saya kemudian bertanya, memangnya samapi jam berapa bapak jualan? kemudian beliau menjawab, tiap hari saya datang jam 5 pagi mba, dan pulang jam 10 malam.
Salut dengan perjuangan beliau untuk menhidupi keluarganya, istri dan anak-anaknya.Tiap hari melakukan pekerjaan yang sama. Tidak peduli dengan kelelahan, fisik, kebisingan beliau berusaha untuk tetap bertahan di pojok itu dengan gerobaknya, selalu ramah menyapa pembeli gorengannya meskipun hidup tak begitu berpihak padanya. Jika mendengar berita anaknya nakal, saya sangat iba dan tak habis pikir dengan si anak, apakah ia tak melihat kerja keras ayahnya. Terlalu banyak anak muda sekarang yang lupa akan ayah dan ibu mereka, tak pernah berfikir dalam bertindak, tak peduli perasaan ayah dan ibunya.
Dalam prinsip hidup beliau bapak penjual goreng, berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi istri dan anak, ia hanya ingin mepersembahkan segala hal yang terbaik dari hidupnya untuk keluarganya, sama dengan banyak ayah didunia ini.
Ketulus dari ayah, ia tak memaksakan anaknya seperti kehendak dan angannya, namun ia akan tetap berjuang untuk memberikan hidupnya untuk stri da anak-anaknya. Tanpa Pamrih...
Tulus....kerja keras, kasih sayang yang indah dan Perjuangan... menjadi pelajaran hidup dari seorang ayah untuk generasi berikutnya...
Mari cintai dan jangan sia-sia kan apa yang telah diberi oleh ayah...Buat ia bangga dan tersenyum selalu
Salam cinta untuk ayah tercinta....

Senin, 16 Mei 2011

Rekomendasi Novel Psikologi

Sebuah novel karya Howard Buten,P.h.D
Ini novel yang membuka cakrawala kita mengenai anak-anak luar biasa khususnya anak-anak yang mengalami Autis. Novel ini menceritakan tentang pengalaman seorang Psikolog Prancis yaitu penulis sendiri Howard Buten yang bekerja di lembaga penanganan autis. Lembaga ini menangani mulai dari anak-anak hingga remaja dengan jenis autis yang berbeda-beda pula, selain itu di luar lembaga Howard Buten juga menceritakan pengalamannya menangani lansia dengan gangguan autis.
Howard Buten, menceritakan pengalamannya dengan penanganan terhadap anak autis dengan cara yang sangat berbeda, melewati empati, dan menirukan perilaku mereka agar dapat masuk kedunia mereka melewati dinding-dinding kaca yang ada. Pada salah satu anak, ternyata penanganan/intervensi dengan cara tersebut dapat mengembangkan aspek bahasa. Luar biasa.....
Pada novel ini juga dijelaskan berbagai macam tipe autis, dengan novel ini, dapat membawa kita memahami mereka, berempati dan menyayangi mereka, menakjubkan saat mengetahui bahwa dalam tubuh mereka diproduksi semacam imun, yang membuat mereka tidak merasakan rasa sakit fisik terhadap benturan, luka dsb.
Ketika orang terserang penyakit fisik, penyakitnya yang dimusuhi, bukan orangnya, tapi ketika seseorang yg memiliki gangguan psikis kenapa justru orangnya yg dimusuhi, bukan penyakitnya.

Untuk Ibunda Tercinta

Dikala semua pergi..Hanya dirimu yang senantiasa mendengarkan ceritaku...
Dikala semua tak berpihak padaku, katamu begitu lembut menegarkanku..
Dikala kepala batu menggerogotiku...ada kalimat indah nan syahdu darimu yang menggetarkanku
Belaian tanganmu membuatku mampu terlelap ditengah dunia yang tak bersahabat..
kehadiranmu membuat duniaku penuh dengan cinta dan kasih sayangmu..
Nasehatmu membatku teguh dan lurus melangkah..
Begitu Indahnya dirimu dan begitu hebatnya dirimu,membuatku begitu mencntaimu..
Sehebat apapun ayahku,aku,dan adik-adikku itu karena dirimu...
Ada tangan dan belaianmu dibalik itu semua...
Inginku...
Membahagiakanmu sampai waktu tak terhingga..
Memberikan yang terbaik yang kupunya dari hidupku untuk senyummu..
begitu ku mencintaimu
Terima kasih atas cinta dan kasih sayangmu...
Diseumur hidupku...
Teruntuk Ibunda tercinta...

Sawahlunto Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya



Mari Berwisawa Ke Kota Sawahlunto
Selain objek wisata, bagi anda yang gemar berbelanja, dapat melakoni hobi dengan membeli Songket Silungkang, dengan berbagai motif yang elegan. Harganya pun sangat terjangkau, anda dapat membeli tenun silungkang ini dengan harga mulai dari 75 ribu untuk atasan. Berikut contoh tenun silungkang dengan harga terjangkau namun tetap elegan.Jika dengan bawahan sekaligus, anda dapat membelinya dengan harga 130/150 ribu.


Masyarakat Perlu Ekstra Selektif di Era Serba "Demokrasi"

Inspirasi untuk menulis dengan tema Masyarakat Perlu Ekstra Selektif di Era Serba "Demokrasi" ini bermula dari ketika saya di hubungi oleh ibunda tercinta. Beliau meminta pendapat mengenai penyelenggaraan sebuah training. Beliau mengatakan bahwa pemerintah kota tersebut akan menyelenggarakan sebuah training kepada anak-anak mengenai mengoptimalkan otak tengah. Cara kerja mereka sanngat aneh, hal ini mereka lontarkan ketika akan menandatangani sebuah kontrak kerja dengan pemerintah kota tersebut. Begini keanehannya menurut saya, anak akan diperdengarkan sebuah musik didalam ruangan, dan tidak boleh orang tua untuk turut serta mendengarkannya, dengan kata lain, orang tua tidak boleh tahu mengenai musik tersebut. Ketika saya tanyakan kepada ibu saya, apa latar belakang pendidikan Trainer tersebut, beliau menyatakan bahwa, tidak ada embel-embel apapun didepan maupun dibelakang namanya (Hehehe, ibu saya kalau ditanyakan latar belakang pendidikan hanya terfokus kepada gelar saja), kemudian saya katakan, bahwa semestinya trainer memiliki sertifikat yang diperoleh dari tempat ia belajar hal yang akan di trainingkannya. Ibu saya kemudian terdiam, dan mengatakan "coba besok ibu cek lagi ya".
Dari percakapan tersebut, saya mencoba menganalisa, bagaimana bagi orang-orang yang tidak memiliki link terhadap pihak yang memiliki keahlian ilmiah?, tentu akan menerima segala macam bentuk training apapun yang ditawarkan. Banyak sekali kasus penipuan, brain wash, dan pemanfaatan sektor psikologi serta kedokteran yang tidak teruji secara ilmiah bahkan akan berdampak sangat merugikan kepada konsumen dan pengguna jasa saat ini terjadi.  Masyarakat dituntut untuk selektif dalam membuat keputusan, jika tidak ingin dirugikan. Di era demokrasi saat ini, semua bebas memilih apapun, bahkan bebas memilih untuk menjadi orang tamak yang memanfaatkan ketidak tahuan orang lain. 
Masyarakat yang tidak mengetahui akan dirugikan, bahkan jika itu menyangkut aspek psikologis akan mempertaruhkan masa depan, dan nyawa.
Marilah kita menjadi masyarakat yang selektif sehingga tidak dibodohi dan dirugikan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan bisnis atau kepentingan pribadi lainnya