Rabu, 15 Juni 2011

I Love Minang

Aku cinta Minang, Aku bangga darah minang mengalir ditubuhku, aku bangga akan keebudayaanku. 
Berawal dari sebuah jurnal mengenai Character Strenght wanita Minang yang saya baca, berlanjut dengan jurnal mengenai kesehatan mental dalam perspektid budaya Minangkabau, saya berpikir, banyak hal menarik yang patut untuk kita analisis dan teliti sebagai orang minang berkaitan dengan budaya kita. 
Hal yang menakjubkan adalah dari hasil penelitian ditemukan bahwa wanita Minang, memiliki Character Strenght yang tinggi dan ini berhubungan terhadap kebahagiaan mereka. Saya kemudian berpikir, apakah sistem kekerabatan matrilineal budaya, dimana wanita memiliki hak memiliki atas harta, dan istimewanya tempat wanita dalam sistem matrilineal inilah yang berpengaruh terhadap tingginya Character Strenght wanita minang?. Entahlah, saya sendiri belum meneliti. 
Berkaitan dengan sistem matrilineal minang, saya kemudian berpikir, ada perbedaan pola, dan sistem organisasi keluarga dengan budaya lainnya di semua penjuru dunia. Sistem kekerabatan ini menjadikan keluarga minang tidak merupakan nuclear family, namun lebih kepada extended family. Maksudnya adalah, ketika saya sebagai anak, tanggung jawab dalam pengasuhan dan pendidikan tidak hanya di pegang oleh orang tua, namun ada peran mamak. "Anak dipangku jo harato pancarian kamanakan di bimbiang jo harato pusako", inilah tugas mamak/paman dari pihak ibu. Jelas ini pola yang tidak ditemukan dikebudayaan lain. Di Minang, tidak ada anak terlantar semestinya, karena ketika orang tuanya meninggal, kewajibanlah bagi saudara perempuan ibu diatas rumah gadang dalam mendidik anak bekerjasama dengan sang mamak.
Luar biasa bukan??begitu adat mengatur, adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah. Jika anda psikolog family, hal ini bisa dijadikan sebuah wacana penelitian untuk memahami dinamika keluarga minang, sebelum melakukan praktek terhadap masyarakat minang. Selain itu, peran bundo kanduang dalam regenerasi nilai2 dan norma, serta pengasuhan anak juga merupakan wacana yang menarik. 
Saat membahas mengenai pola keepemimpinan dalam minang, dimana pandangannya alah, bahwa alam semesta memiliki hal yang berbeda-beda dan dengan fungsinya masing-masing, ini berarti minang, menganut paham positivisme yang dalam, dan prinsip
Orang buta berfungsi penghembus lesung, orang pekak pelepas meriam, orang lumpuh penghuni rumah, orang cerdik lawan berunding, orang bingung (bodoh) untuk disuruh.The right man in the right place.Hebat bukan, bahkan budaya minang terlbih dahulu telah menerapkan hal yang sering di sebut-sebut dalam psikologi industri dan organisasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar